Pemuda di era digiral
Manusia, khususnya anak muda saat ini, seringkali berada dalam keadaan lemah, gelisah, merasa diam, stres, dan bingung tidak menentu arah. Di saat-saat seperti itulah, manusia yang berusaha mencari jati diri akan mulai belajar memahami kehidupannya. Proses belajar itu bisa melalui referensi buku, artikel di internet, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), atau juga belajar langsung dari alam dan realita yang ada, serta dari orang-orang di sekitarnya.
Manusia merasa galau dan bingung mungkin itu sudah menjadi bagian dari takdir Tuhan. Kita, manusia, hanya bisa menjalani ketetapan-Nya. Namun, kita tidak boleh menyerah. Kita harus terus belajar untuk menjadi manusia yang mampu memahami arti kehidupan ini.
Lantas, seperti apa seharusnya manusia memulai atau setidaknya menjalani proses dalam hidupnya? Tentu saja itu sangat personal, dan boleh jadi mengikuti arus hidup begitu saja. Namun yang penting adalah adanya proses berpikir dan menentukan bagaimana kita menjalani hidup, khususnya di era sekarang, tahun 2025, ketika distraksi sangat kuat dan luar biasa.
Jika saat ini kita merasa sulit fokus, setidaknya kita bisa memulai dengan belajar. Belajar itu bisa dengan membaca buku, bertanya, merenung, atau mungkin dengan mengunjungi perpustakaan, ya betul mengunjungi perpustakaan. Meskipun perpustakaan mungkin dianggap tidak populer lagi, bagi saya pribadi perpustakaan adalah tempat belajar yang tenang dan fokus. Tempat di mana kita bisa meresapi suasana berpikir yang mendalam.
Selain itu, perpustakaan memiliki banyak buku bagus yang dapat memicu ide-ide kreatif. Di zaman sekarang, fokus adalah hal yang sangat mahal dan langka. Kemampuan untuk fokus tidak dimiliki semua orang, apalagi di tengah maraknya penggunaan smartphone dan berbagai distraksi digital.
Kini hampir semua orang memiliki smartphone. Tak jarang, perangkat ini justru mengalihkan kita dari kehidupan nyata. Banyak yang menghabiskan waktunya di HP, menjadi kecanduan tanpa disadari. Smartphone, media sosial seperti TikTok, Instagram, YouTube, serta akses mudah ke berbagai konten negatif seperti judi online dan pornografi, semakin menjauhkan kita dari dunia nyata dan nilai-nilai yang seharusnya dijaga.
Tahun 2025 ini menjadi era yang sangat menantang bagi generasi muda. Pertanyaannya adalah: apakah anak muda siap menghadapinya?
Jawabannya tergantung pada orang tua dan masing-masing pribadi bagaimana mereka menjaga diri. Jika anak muda dapat membawa dirinya dengan baik, menjaga nilai-nilai spiritual, dan membentuk lingkungan yang positif, maka era ini bisa menjadi peluang, bukan hanya ancaman.
Komentar
Posting Komentar